Senin, 17 September 2012

Jalan Kuno Ondho Budho Mulai di Rehabilitasi




Banyak orang yang sudah mendengar tentang situs Ondho Budho di Dieng, yang merupakan peninggalan sejarah dari kejayaan masa lalu, bahkan banyak juga yang langsung melihat ke lokasi dan menuliskannya, akan tetapi ternyata banyak juga yang membuat kesalahan dalam penulisan, seperti dalam mengidentifikasi nama desa dimana ondho budho berada bisa jadi hal ini karena orang yang menulisnya tidak melakukan tanya jawab dengan penduduk sekitar dan hanya berdasarkan asumsi  saja.
Dusun Siterus Desa Sikunang Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo merupakan lokasi yang menjadi tempat dimana ondho budho berada, tepatnya disebelah selatan dusun Siterus, Menurut sesepuh Dieng nama Siterus sendiri terkait erat dengan kata penerus dimana dulunya dusun ini merupakan penerus dari nenek moyang penduduk Dieng, beberapa bukti yang ada adalah banyaknya anak berambut gimbal di dusun ini yang merupkaan penerus dari Tumenggung Kyai Kolodete yang dipercaya sebagai manusia pertama di Dieng.
Ondho Budho merupakan peninggalan sejarah yang memiliki nilai tinggi dan banyak penduduk sekitar kawasan Dieng yang percaya dulunya dijadikan sebagai jalan menuju Dieng dari wilayah bawah, jalan tersebut merupakan jalan sepatak batu berundak- undak. orang-orang tua warga desa sikunang sembungan dan sekitarnya juga dulunya selalu menggunakan jalan ini apabila akan pulang pergi kedesa disekitarnya. 
Selama ini Keberadaan Ondho budho juga masih digunakan oleh petani untuk pulang pergi keladang. fungsi ini tentunya hanya melanjutkan dari apa yang dulu sering dilakukan oleh generasi sebelumnya.
Keberadaan Ondho Budho sampai dengan beberapa waktu yang lalu memang sangat mengenaskan peninggalan sejarah yang memiliki arti penting tersebut tak ubahnya seperti jalan setapak pada umumnya yang dibangun dari batu biasa, padahal menurut cerita sesepuh, batu-batu tersebut diambil dari gunung pakuwojo yang lumayan jauh jaraknya.sehingga bangunan ini memiliki arti tersendiri bagi generasi sekarang.
ketidak pedulian banyak pihak menyebabkan jalan kuno tersebut terbenam tanah, bahkan sebagian diikutkan oleh petani menjadi lahan garapan,dimuat berkali-kali dimediapun tetap tidak ada yang peduli.sampai akhirnya peninggalan sejara tersebut tidak memiliki arti.
Hari Jum'at tanggal 14 Sepetember 2012 Kemarin sekitar 30 pemuda dusun siterus melakukan aksi rehabilitasi secara mandiri untuk mengembalikan jalan tersebut menjadi seperti semula ,Proses Rehabilitasi ini memang tidaklah mudah,Tafrihan LSM Bhinneka Karya yang sekaligus menjadi sekretaris Forum Pengembangan Pariwisata Kawasan Dieng beberapa kali telah melakukan loby-loby kepada pemuda dusun Sikunang untuk bergerak secara mandiri ,kerja bhakti untuk nguri-uri sejarah, sekitar 3 kali pertemuan belum membuahkan hasil berupa keberanian bertindak karena butuh koordinasi lebih dengan petani penggarapnya, kendala tersebut kemudian ditindak lanjuti dengan pemuda 
Dusun Siterus yang kemudian secara bertahap melakukan loby-loby dengan pemiliklahan sekitar. akhirnya dengan kebersamaan semuanya bisa dilakukan, tujuannya untuk kepentingan bersama.
Mad Nur, 31 Tahun ( warga dusun Siterus ) yang ikut menjadi penggerak pemuda yang lain cukup bersemangat dalam melakukan kegiatan ini, termasuk melakukan loby kepada petani yang lahannya akan dikepras/ pangkas untuk dikembalikan ke wujud semula. konsultasi rutin pemuda siterus masih terus dilakukan secara intens dengan tafrihan bahkan memberikan PR baru berupa gambar awal pada jaman belanda yang akan dijadikan patokan rehabilitasi jalan kuno tersebut.
Gambar/ foto kuno yang ada memang tidak terlalu banyak seperti gambar candi Dieng misalnya, dan dari kiriman mas Jajang Agus Sonjaya ( Fakultas Arkelologi UGM ) gambar yang didapat adalah foto tahun 1911 yang bertuliskan ondho budho Demmeni 1911. 
Foto ini tentunya sangat berarti bagi sebagian pemuda dusun siterus yang peduli untuk melestarikannya. karena akanmenjadi patokan awal penggarapan selanjutnya, rencananya kerja bhakti ini akan dilakukan secara bertahap setiap hari jum'at jelas Mad Nur.
Tim diengplateau.com diajak oleh Mad Nur dkk untuk menelusuri Jalan kuno ini dari undakan batu pertama sampai dilokasi yang rata pada bagian atas. rehabilitasi yang dilakukan memang belum terlalu banyak tapi sudah cukup memperlihatkan kembali batu-batu yang memiliki nilai sejarah ini, untuk batu batu pada posisi agak bawah masih cukup bagus dan tertata seperti sedia kala, akan tetapi untuk yang bagian atas sebelum lokasi yang rata sepertinya sudah ada beberapa tambahan batuan jenis lain ,hal ini terleihat secara jelas, tapi mereka bersikeras kalau nantinya sudah selesai akan dilakukan penyiraman agar debu dan tanah yang melekat dibatuan tersebut hilang dan pasti nantinya akan sama seperti yang dibawah sana jelas secara antusias teman Mad Nur menjelaskan.
Ternyata jalan tersebut merupakan jalan yang apabila terus ditelusuri akan bertemu dengan Jalan besar yang menuju Desa Tertinggi Di jawa yaitu desa Sembungan. yang kondisinya semakin menyempit dibanding dengan yang bagian bawah. 
Dilokasi yang rata terdapat juga batu besar yang saat ini ditumbuhi rumput dan ilalang warga desa mengatakan dulunya dibatu ini sering dibakari kemenyan dan dupa oleh orang dari luar desa, nama batu ini adalah batu kisit. sedangkan batu lain yang ada dipinggir jalan ondho budho ini ada batu yang tidak terlalu besar dan dari foto jaman belanda tersebut posisinya masih sama tidak berpindah tempat karena diusik oleh penduduk sekitar, nama batu tersebut adalah watu Kursi, yang bentuknya memang mirip tempat duduk lengkap dengan senderannya, batu ini dulunya dijadikan tempat istirahat setelah menempuh perjalanan jauh.
Dari lokasi yang sama kita juga dapat melihat gunung kendil dimana terdapat pesanggrahan Kyai Kolodete yang pada waktu-waktu tertentu didatangi oleh banyak orang untuk bersemedi atau melakukan ritual oleh penghayat kepercayaan dari berbagai tempat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar